Negeri?

Oh negeri

Inilah tanah airku

Tanah tempatku dirampas

Air untukku dikuras

Oh negeri

Inilah tumpah darahku

Lanjutkan membaca Negeri?

Iklan

Memahami Kembali Gerakan Golput

Ilustrasi tatkala.co

Akhir-akhir ini istilah golput atau golongan putih kembali hangat diperbincangkan oleh para politisi atau mahasiswa di kampus atau media massa. Istilah golput kembali hangat diperbincangkan dikarenakan pada 17 April 2019 nanti akan diadakan pemilu serentak—mulai dari Presiden sampai anggota dewan—di seluruh Indonesia.

Istilah ini diartikan oleh beberapa orang sebagai sikap apolitis massa terhadap proses pemilu itu sendiri. Bahkan menurut beberapa orang, golput adalah sikap seorang pengecut, pengkhianat, sakit mental, sampai disamakan dengan terorisme. Bahkan Wiranto menyebutkan bahwa mengajak orang lain—mengkampanyekan—golput dapat dipidanakan dengan UU Terorisme, UU ITE, atau jika kedua UU itu tidak dapat digunakan masih ada KUHP.

Golput pada era sekarang ini sudah mendapatkan artian peyoratif seperti yang sudah disebutkan di atas. Padahal jika dilihat secara historis, golput bukanlah gerakan apolitis, melainkan gerakan yang benar-benar politis. Kemudian golput dan kampanye golput itu sendiri tidaklah bisa dipidanakan menggunakan UU yang telah disebutkan sebelumnya oleh Wiranto, bahkan golput itu sendiri adalah gerakan yang memang mungkin ada di era demokrasi. Lanjutkan membaca Memahami Kembali Gerakan Golput

Rasisme: Apa dan Mengapa Harus Dilawan

www.timesofmalta.com
Ilustrasi timesofmalta.com

Dewasa ini istilah-istilah rasisme lebih sering kita dengar dibanding sebelumnya. Tak jarang pula, pandangan-pandangan rasisme itu justru muncul dari kelompok atau orang yang dijadikan panutan oleh massa, sehingga massa pada umumnya berpikir bahwa sikap rasisme—walaupun tak menyadarinya—adalah sikap yang normal dan wajar.

Hal tersebut diperparah dengan hinggap dan berkembangnya sikap rasisme ke dalam pikiran-pikiran kaum intelektual—mahasiswa dan dosen—yang dikatakan mampu berpikir kritis dan memiliki tingkat inteligensi yang tinggi. Kaum intelektual yang seharusnya menjadi penentang paling keras dari sikap yang merusak tersebut malah menjadi bagian di dalamnya. Mulai dari menjadi opinion maker, penerus opini-opini rasis, atau membiarkannnya saja. Dengan kata lain, mereka yang seharusnya memberikan air kepada massa yang haus, malah memberikan racun! Racun yang perlahan tapi pasti akan menjalar dan merusak seluruh sel-sel kemajemukan di dalam tubuh suatu negeri.

Maka dari itu, untuk mematikan racun rasisme kita harus mengenal dan memahami terlebih dahulu racun tersebut, Lanjutkan membaca Rasisme: Apa dan Mengapa Harus Dilawan

Kapitalisme dan Permasalahan Lingkungan Hidup

Ilustrasi ryankatzrosene.blogspot.com

Bumi—alam—yang kita tinggali sekarang ini merupakan salah satu sumber dari segala sistem kehidupan, dari sanalah segala kebutuhan manusia terpenuhi dan untuk mengubah sumber daya alam menjadi kebutuhan hidup, manusia harus melakukan kegiatan yang disebut kerja.

Dalam proses kerja inilah manusia mengubah, memanfaatkan serta mengolah alam menjadi suatu komoditas yang nantinya digunakan untuk keberlangsungan hidup manusia itu sendiri. Bellamy Foster berpendapat bahwa alam—lingkungan hidup—adalah badan inorganic dari manusia“Alam merupakan badan inorganic manusia karena alam bukanlah badan manusia. Namun manusia hidup dari alam sehingga secara fisik dan mental, terhubung dengan alam. Sederhananya, alam berhubungan dengan dirinya sendiri karena manusia bagian dari alam.”[1]

Dengan kata lain manusia dengan alam itu saling berkaitan satu sama lain: walau alam bukan merupakan suatu bagian dari tubuh manusia secara langsung, tetapi manusia membutuhkan alam agar tubuhnya tersebut tetap hidup.

Lanjutkan membaca Kapitalisme dan Permasalahan Lingkungan Hidup